Bayi Tanpa Anus Butuh Uluran Tangan

SEKILAS pertumbuhan Farel terlihat biasa-biasa saja. Bayi berusia 10 bulan tampak normal seperti lazim bayi seusianya. Ia bisa merangkak kesana-kemari bertumpu pada kedua tangan dan kakinya, serta bergerak meraih benda di sekitarnya.

Tapi di balik keceriaannya, anak pasangan Anton (35) dan Sarinah (32), warga RT 19 RW 08 Dusun Baru Utara Desa Baru Kecamatan Manggar ini ternyata memiliki kelainan. Farel ternyata tidak memiliki lubang anus. Buang air besar terpaksa harus dilakukan melalui lubang saluran yang dibuat melalui operasi pada bagian samping kiri perutnya. Untuk sementara, kondisi pertumbuhan Farel masih dianggap relatif stabil. Namun kedua orang tuanya mulai resah memikirkan masa depan dan cara mengobati kelainan pada saluran pembuangan Farel.

Pada lubang saluran di bagian samping kiri perutnya, kini mulai terdapat gumpalan yang semakin membesar. Dikhawatirkan kondisi ini dapat membahayakan keselamatan Farel Mengingat bagian ini seringkali lecet jika tersentuh dan harus dibungkus dengan menggunakan kain kasa secara terus menerus. “Kalau buang air besar dari saluran itulah. Setelah habis buang air besar kain kasa penutupnya diganti yang baru. Kalau basah kena cairan dari dalamnya kita ganti. Jadi setiap saat harus sedia kain kasa,” ungkap Sarinah, kemarin.

Ia menuturkan, proses persalinan kelahiran Farel di RSUD Kabupaten Belitung beberapa waktu lalu berlangsung normal. Setelah lahir, barulah diketahui Farel ternyata tidak memiliki lubang anus. Tim medis yang menanganinya saat itu kemudian melakukan operasi pembedahan pada bagian samping kiri perutnya untuk saluran pembuangan air besar.

“Dulunya waktu baru lahir saluran pembuangan ini kecil, sekarang tambah membesar. Biarpun kondisinya seperti ini, kondisi kesehatannya cukup baik, makan seperti biasanya dan berat badannya normal. Yang jadi pikiran aku dengan suami dan keluarga lainnya bagaimana cara mengobatinya supaya anak aku ini dapat normal. Kasihan umurnya semakin bertambah, kalau sudah besar nanti bagaimana. Khawatir nantinya dapat mengganggu kesehatannya, apalagi sekarang saluran pembuangan seringkali dimainmainnya, digaruk-garuk kalau lagi tidur,” tutur Sarinah dengan wajah muram.

Ia mengaku sejak lama sangat berkeinginan mengobati kelainan yang diderita anak tercintanya itu. Namun keinginan itu terganjal masalah ketersediaan dana. Apalagi suaminya hanya seorang nelayan biasa.

Untuk meringankan biaya pengobatan selama ini, orang tua Farel sudah mendapatkan surat keterangan dari pemerintah desa setempat untuk menjadi peserta Askes Perdana. Dalam waktu dekat, Farel akan dibawa ke RSUD Kabupaten Beltim. “Mulanya aku takut bawa anak aku ini pergi berobat, takut biayanya mahal. Penghasilan suami dak seberape hanya cukup untuk makan,” ujar Sarinah didampingi sanak keluarganya.

Pihak keluarga maupun orang tua Farel berharap ada uluran tangan dermawan baik pemerintah maupun pihak ketiga untuk membantuh membiayai operasi Farel. Pada waktu operasi pembuatan saluran pembuangan air besar saat Farel dilahirkan, menurut Sarinah, dibayar dengan menggunakan uang seadanya. “Waktu itu diminta sekitar Rp 2 juta biayanya. Tapi sudah tidak ada uang lagi, jadi dibayar dengan uang seadanya sekitar Rp 400.000,” kata salah seorang pihak keluarga Sarinah. (Bangka Pos/Adi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: