Untuk Pesta Bisa, Buat Gaul Oke

Kain batik terus dieksplorasi di negeri ini untuk dijadikan bagian dari fashion masa kini. Ada yang membuat motif-motif baru batik. Ada juga yang membikin busana dengan desain up to date dari bahan batik bermotif tradisional. Para pelaku eksplorasi itupun bermacam-macam. Ada perancang ternama Tanah Air yang menargetkan konsumen kelas atas dan dunia internasional. Ada pula butik batik dalam negeri dengan pasar kelas menengah-atas.

Chossy Latu, contohnya, belum lama ini di Jakarta mengeluarkan koleksi baru 2008-nya dalam pergelaran busana karyanya yang berjudul Malam. Dari sederet busana ciptaannya–berupa gaun cocktail yang ringan hingga gaun pesta yang anggun–ada yang dibuatnya dari bahan batik hasil garapannya bersama The Art of Palohy Batik by Pauli Patipeilohy.

Motifnya bunga Bali dan ada yang diberinya sentuhan prada atau tinta warna emas. Motif tersebut dibuatnya di atas tekstil eksklusif sutera Thailand, sutera satin, organsa, sifon, shantung, krep, tafeta, dan sutera tafeta.

Chossy, yang pernah menjadi konsultan dan perancang busana untuk rumah batik Iwan Tirta (1982-2000), justru menjauhkan aroma etnik dari busana batik karyanya, demi menjadikannya bagian dari fashion modern kelas atas, tidak terkecuali di dunia global.

Sementara itu, di jalur lain ada, sebut saja, busana kasual dari bahan batik Pekalongan keluaran butik batik Nilakandi di Kuta, Bali, milik Rachmani Endrawati. Dengan mendirikan butik tersebut, ia berharap bisa menghidupkan lagi eksistensi batik Pekalongan, yang memiliki motif dan warna khas sekaligus semarak.

Produk-produknya, yang serbabatik, tak hanya berupa pakaian, tapi juga pernik-pernik fashion lainnya, seperti tas, sepatu sandal, ikat pinggang, kalung, gelang, dan bandana. Desainnya trendy, karena yang disasarnya terutama orang-orang muda, yang umumnya selama ini “alergi” terhadap batik. Tak heran, dalam koleksinya ada, antara lain, rok dari bahan jean campur bahan batik katun yang bisa dikenakan dengan blus katun polos penuh ruffle tanpa lengan.

Supaya bisa memasang harga yang terjangkau untuk kelas menengah-atas, ia memakai batik cap (bukan batik tulis!) di atas katun atau shantung sebagai bahan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: