Ayo Mencari Tarif Seluler yang Paling Murah

Setelah menunggu lebih dari lima tahun, akhirnya tarif dasar telekomunikasi turun juga. Hasilnya, selisih tarif antaroperator relatif makin tipis. Sedangkan perusahaan operator yang baru justru kian agresif mematok tarif murah.

Jika kita membanding-bandingkankan tarif dasar beberapa operator seluler yang sudah kelua, beberapa operator tampak berani membuat terobosan yang berani. Misalnya, Exelcomindo (XL) dan Three.

XL berani memasang tarif tanpa membedakan jarak atau zona dengan mematok tarif flat, entah ke operator seluler lain maupun ke telepon tetap dan fixed wireless access (seperti Telkom Flexi), sebesar Rp 750 per 30 menit. Sedang Three mematok tarif flat untuk pembicaraan lokal Rp 399 per menit dan interlokal Rp 1.000 per menit.

Persaingan antaroperator yang paling tajam ada pada tarif kartu prabayar lintas operator seluler (lokal). Mentari Indosat mematok Rp 1.400 per menit, XL Bebas Rp 1.500 per menit, dan Simpati Rp 1.600 per menit.

Adapun untuk pascabayar, Matrix Indosat dan Halo Telkomsel yang bersaing ketat. Untuk bicara lokal ke seluler lain, Matrix memungut Rp 740 per menit sementara Halo Rp 750 per menit. Sedangkan Xplore dari XL malah jual mahal, dengan tarif Rp 1.500 per menit.

Sementara tarif short message service (SMS) relatif merata. Baik prabayar maupun paska bayar, rata-rata tarif lintas operator sebesar Rp 150 per pesan. Cuma IM3 Indosat dan Three yang berani membanderol tarif Rp 100 per pesan.
Kendati tarif ritel turun sampai 70 persen, para operator mengaku tak khawatir pendapatannya bakal turun. Direktur Utama Excelcomindo Pratama, Hasnul Suhaimi mengaku, penurunan tarif justru lebih mengefisiensikan pemakaian jaringan yang ada. “Dengan tarif murah, pelanggan akan menggunakan telepon lebih lama,” jelasnya.

Operator juga berharap bisa mendongkrak jumlah pelanggan. “Secara neto, penurunan tarif tidak berdampak terlalu signifikan terhadap omzet perusahaan,” papar Hasnul.

Direktur Pemasaran Indosat, Guntur S. Siboro juga sependapat. Menurutnya, penurunan tarif ritel merupakan keharusan. Ini akan membuat iklim persaingan bisnis telekomunikasi lebih kompetitif. “Frekuensi pemakaian konsumen juga bakal meningkat,” katanya yakin.

Tenggat molor Lagi

Para operator telekomunikasi bisa lega setelah pemerintah memutuskan perpanjangan batas waktu penyerahan dokumen penurunan tarif dasar (ritel) operator. Keputusan regulator itu tertuang dalam revisi Permenkominfo Nomor 12/2006 tentang Tata Cara Penetapan Tarif Perubahan Jasa Teleponi Dasar Jaringan Bergerak Selular yang ditandatangani Menkominfo M. Nuh kemarin. Awalnya, batas terakhir menyampaikan dokumen jatuh pada Senin (14/4).

Namun, revisi Permenkominfo itu menyebutkan, operator telekomunikasi dapat menyampaikan penurunan tarif terhitung 14 hari sejak revisi ditetapkan. Artinya, batas terakhir menyampaikan penurunan tarif jatuh pada Senin (21/4) mendatang.

Juru bicara Postel Gatot S. Dewa Broto bilang, batas waktu penyerahan dokumen penurunan tarif ritel sengaja diperpanjang guna memberi kesempatan operator melakukan penyesuaian dengan regulasi baru. Khususnya, soal formula perhitungan biaya aktivitas layanan telekomunikasi. Kesempatan serupa juga diberikan pada operator yang sudah menyampaikan tarif ritel baru ke pemerintah.

Hingga kemarin, operator yang sudah menyampaikan penurunan tarif itu adalah PT Telkom, PT Telkomsel, PT Indosat, PT Excelcomindo Pratama, PT Bakrie Telecom, dan PT Hutchinson CP Telecommunication. Sementara lima lainnya belum menyampaikan dokumen penurunan tarif ke pemerintah.

Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi menduga, kelima operator itu masih menunggu penetapan revisi Permenkominfo Nomor 12/2006. Sebenarnya, kalau memang alasan itu yang dipakai, operator kurang tepat. Sebab, regulator sudah melakukan sosialisasi jauh hari. “Sebenarnya operator sudah tahu semua formula perhitungannya. Apalagi biaya interkoneksi juga sudah jelas turun per 1 April. Jadi, mestinya mereka sudah menurunkan tarif,” tegas Heru.

Namun, lanjut Heru, BRTI tak bisa mempersoalkan molornya penyampaian laporan tarif ritel baru dari operator. Hanya, penundaan itu mengakibatkan pelaksanaan evaluasi BRTI dan Ditjen Postel terhadap dokumen operator ikut molor. “Semuanya molor, termasuk proses evaluasi ikut tertunda,” ucap Heru.

Nah, berhubung sudah diperpanjang, Heru bilang tak ada alasan bagi operator molor lagi menyampaikan laporan penurunan tarif. BRTI akan menegur operator yang masih belum menyampaikan penurunan tarif sampai batas waktu pada Senin (21/4) mendatang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: