Istri Berkarier, Rawan Konflik

PASANGAN suami-istri punya posisi seimbang dalam rumah tangga. Artinya, istri juga menyokong finansial keluarga. Hal ini bisa memicu konflik. Bagaimana mengatasinya dan konflik apa yang kerap terjadi?

Imbas tuntutan zaman membuat wanita semakin mandiri. Pola rumah tangga seperti ini tidak lagi mengharuskan istri memasak atau suami menuntut disuguhi secangkir kopi ketika pulang kantor. Dalam sisi positif, tentu saja finansial keluarga semakin mapan dengan pemasukan pendapatan dari kedua belah pihak. Selain itu, konflik juga sering tidak terhindarkan akibat kesibukan masing-masing.

Psikolog dari Lembaga Terapan Psikologi Universitas Indonesia Irma Gustiana A MPsi mengungkapkan, sebelum menikah, sebaiknya pasangan itu saling mengetahui kesibukan masing-masing, termasuk pekerjaan. Sebelum menikah, sebaiknya pasangan sudah mengerti kesibukan masing-masing. Hal itu berbeda ketika istri mulai bekerja saat sudah menikah.

“Suami harus memperbanyak informasi terkait pemilihan profesi yang akan dijalankan istri. Bekal informasi ini adalah upaya meminimalisasi konflik yang mungkin terjadi,” papar Irma.

Bagi pasangan bekerja, permainan peran sudah tidak terlalu ditekankan. Bahkan, peran tersebut justru sering kabur. Akibatnya, antarpasangan ada kecenderungan saling menunjukkan power, apalagi bila istri mempunyai posisi tinggi di kantor.

“Kemungkinan istri tidak bisa memisahkan antara kebiasaan di kantor dan rumah. Sebab, dalam seminggu, istri lebih banyak di kantor. Istri juga berpotensi untuk dominan dalam rumah tangga karena masih terbawa pola di kantor,” papar ibunda dari Darren dan Hazzel.

Irma mengingatkan kalau sudah berada dalam tahap ini, sang istri diharapkan berhati-hati dan segera komunikasikan bersama sang suami. Minimnya waktu komunikasi merupakan masalah paling krusial yang kerap terjadi pada pasangan sibuk.

Sebenarnya, kuantitas waktu jangan dijadikan patokan. Dia menyarankan sebaiknya pasangan supersibuk memaksimalkan waktu yang ada. Bila ingin membangun komunikasi yang sehat, tetap prioritaskan suami. Dengan demikian, jika Anda punya waktu untuk berdua bersama suami, sebaiknya gunakan seefisien mungkin. Meski hanya lima menit, Anda dan pasangan tetap bisa saling melontarkan lelucon untuk menyegarkan kehidupan perkawinan. Selain itu, ungkapkan perasaan seperti “I love you” pun masih dibutuhkan.

“Cukup obrolan-obrolan ringan, misalkan masalah anak bisa menjadi penyemangat,” tuturnya mencontohkan.

Anda akan merasa nyaman saat menghabiskan waktu bersama meski durasinya singkat. Bagi suami, dia pun akan merasa dibutuhkan karena selalu ada yang mendampinginya. Seperti yang dilakukan M Adwi Yudiansyah, dia sangat memanfaatkan waktu yang tersedia untuk mengobrol dengan istri.

“Setiap pergi dan pulang kerja, saya selalu mengantar-jemput istri dan di sinilah terjalin komunikasi terjalin meski hanya satu jam,” papar pria yang akrab disapa Adwi ini.

Begitu sampai rumah sekitar pukul 20.00, Adwi dan Nurul Dewanti wajib mengajak bermain anak meski hanya sebentar. “Hampir sejam kami mengajak bermain si kecil dan menidurkannya. Kemudian, kami baru mengobrol yang tadi sempat terputus selama di perjalanan,” tutur ayah dari Latifia Binar Saiera.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: